“I’ve Grown Accustomed To Her Face”
February 1, 2010
Malam ini saya ditemani oleh alunan “I’ve Grown Accustomed To Her Face” dari Chet Barker, sembari saya menulis. Rasanya lagu ini sudah lama tidak saya putar. Saya sebelum lebih memilih mendengarkan lagu-lagu dari band indie dan beberapa lagu instrumental gitar. Setelah beberapa waktu lalu saya dibuat takjub dengan lagu-lagu model big band yang di putar di XXI. Saya kemudian mencari lagu-lagu lama di harddisk komputer saya dan menemukan beberapa lagu blues (B.B. Kings) dan instrumental jazz, yang salah satu lagu nya sedang saya putar malam ini.
Rasanya saya tidak akan pernah lepas dengan jenis musik jazz and blues. Saya memang bukan terlahir dalam keluarga musisi, tapi saya terlahir dalam keluarga penikmat musik berkualitas (“alhamdullilah”). Hehe. Almarhum ayah sejak saya kecil sering memutar lagunya the beatles, Nat King Cole, Natalie Cole, Frank Sinatra, bahkan terkadang Queen. Sebelum dia meninggal dia lebih sering mendengarkan album-album instrumental jazz, terutama untuk alat musik saxophone. Saya jadi ingat bahwa ayah meninggalkan saxophone kesayangannya, dan belum sempat saya buka kembali. Ibu lebih suka dengan produk dalam negeri seperti Ruth Sahanaya dan Chrisye. Pengaruh keduanya sangat kuat, saya mengikuti ayah suka dengan jazz dan jenis musik blues dan ketika ibu suka sekali memutar lagu-lagu Ute (Ruth Sahanaya), saya ikut-ikutan suka dengan suara Ute yang fenomenal. Mungkin itulah alasan saya menyukai musik-musik berat, dan saya rasa tidak berat juga.
Hehehe.
Kopi dan Matahari Pagi
January 27, 2010
Akhir-akhir ini saya tidak bisa meninggalkan kebiasaan saya minum kopi pada pagi hari. Apa yang saya pikirkan ketika bangun pagi adalah mengambil sebuah cangkir kemudian menakar kopi satu sendok teh dan satu setengah sendok teh untuk gula, lalu saya seduh dengan air panas. Kopi membuat saya merasakan sebuah kedamaian jiwa dan ketenangan dalam berpikir. Mungkin saya akan mulai kecaduan kopi untuk beberapa hari berikutnya.
Kopi atau coffee (dalam bahasa Inggris) berasal dari bahasa arab, yaitu qahwah, yang mempunyai arti kekuatan (kopi). Kata tersebut berkembang menjadi kahveh (Turki), lalu koffie (Belanda), dan kita kenal sekarang menjadi coffee dalam bahasa Inggris. Kopi pertama kali ditemukan di negara Arab pada abad ke 15, kopi tersebut terkenal dengan nama kopi Arabica. Inilah beberapa referensi yang saya dapatkan ketika saya meng”googling” kata kopi.
Beberapa hari ini Jogja diguyur oleh hujan, terutama pada sore hari. Sampai saya tidak menemukan jeda antara hujan dan cerah. Namun pagi hari ini matahari bersinar cerah sekali, tanpa awan, dan langit berwarna biru laut. Suasananya sepertinya lengkap sudah. Kopi ditanggan dan mata sembari melihat langit yang biru. Aroma kopi terbawa angin pagi, membuat suasana semakin dalam. Hehehe. Sejenak lepas dari penat dan berita buruk yang tiada henti di semua media di Indonesia. Tenang dan damai. Semoga masalah mendapatkan solusi, itu doa saya untuk anugrah pagi hari ini.
Penantian Jadwal
January 26, 2010
Setelah sekian lama saya meninggalkan blog ini, akhirnya saya bisa kembali menulis (walupun hanya secuil). Kesibukan menjalani aktifitas seorang mahasiswa dalam mengerjakan skripsi, membuat aktivitas keseharian saya berada dalam rangkaian antara buku teks-data penelitian-spss-laptop-dan aktivitas lapangan. Akibat aktivitas tersebut saya mengalami dispesia sampai dua kali dan laptop saya error sampai berujung pada rusaknya harddisk (untung masih garansi). Setelah semua berakhir, perjuangan ternyata tidak berhenti sampai selesainya skripsi, perjuang ternyata masih berlanjut sampai detik ini. Detik detik penantian jadwal pendadaran. Semoga semuanya lancar. Amien.
Mencoba untuk Menggambar Kembali
December 4, 2009
Burger
December 4, 2009
Adakah hubungan antara burger dan kehidupan? Jawabanya adalah iya. Sebuah potong burger memberikan tenaga, kabohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan protein. Semuanya berpadu padan membentuk sebuah energi untuk hidup. Burger juga mengakrabkan bapak dengan anaknya, memberikan sebuah senyuman manis di wajahnya yang polos. Biar pun adik kecil itu belum bisa makan tanpa clemot di kedua pipinya, namun tersirat bahwa hatinya sangat senang dengan apa yang dia makan. Sepotong burger membuat manusia bercerita banyak tetang kehidupannya, merelakan waktunya untuk duduk dan bercerita. Sepotong burger adalah sepenggal cerita masa lalu dan masa sekarang yang akan terus berjalan tanpa henti.




